Mengapa Tidak Ada Terminal Blok B atau Pasar Blok D di Jakarta?

Arpapedia – Pernahkah Anda melintasi jantung Jakarta Selatan menggunakan rangkaian MRT dan terpaku pada papan penunjuk jalan yang berkelebat cepat? Blok M, Blok A, hingga Blok S. Nama-nama ini telah lama meresap ke dalam memori kolektif warga Jakarta sebagai koordinat mutlak navigasi urban.

Namun, di balik hiruk-pikuk terminal dan kemegahan pasar yang kita kenal, muncul sebuah pertanyaan provokatif: Jika alfabet ini dimulai dari huruf A, ke mana perginya huruf-huruf lainnya? Mengapa kita tidak pernah mendengar riuhnya Terminal Blok B atau pusat perbelanjaan di Blok D?

Nomenklatur alfabetis ini sering kali dianggap sekadar kode birokrasi yang acak. Padahal, di balik deretan huruf tersebut, terkubur narasi besar tentang ambisi kedaulatan dan modernitas pasca-kemerdekaan Indonesia.

Jejak Sang Arsitek: Melawan Sesaknya Batavia



Kisah ini bermula pada tahun 1948, saat Batavia mulai "tercekik" oleh urban sprawl yang tak terkendali. Pemerintah saat itu menyadari perlunya wilayah penyangga yang mandiri. Maka, dirancanglah sebuah kawasan hunian modern seluas 730 hektar di sisi selatan.

Sosok visioner di balik megaproyek ini adalah H.M. Soesilo, seorang perencana kota yang membawa napas baru bagi tata ruang Indonesia. Untuk mempermudah zonasi, Soesilo membagi wilayah Kebayoran Baru ke dalam blok alfabet, mulai dari A hingga S.

Menariknya, sistem yang awalnya bersifat teknis ini bertransformasi menjadi identitas sosial yang prestisius. Muncul fenomena psikologis yang unik: banyak warga lebih bangga menyebut diri sebagai "Anak Blok M" dibandingkan sekadar penduduk Melawai. Label teknis telah bermutasi menjadi simbol status dan gaya hidup.


Logika di Balik Kode: Bukan Sekadar Huruf



Pembagian alfabet oleh Soesilo dilakukan dengan perhitungan matang. Setiap huruf merupakan "kode genetik" yang menentukan karakter aktivitas di atasnya:
  • Blok A hingga H: Didominasi zona residensial dengan kavling tanah luas, dirancang untuk hunian mapan.

  • Blok M: Ditetapkan sebagai jantung komersial (business and entertainment district).

  • Blok S: Area hunian yang bersinggungan langsung dengan ruang terbuka hijau.




Dominasi nama tertentu seperti Blok M dalam percakapan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh fungsi publiknya. Kehadiran terminal bus besar menjadi katalisator utama yang membuat nama Blok M melekat kuat dalam benak warga melampaui abjad lainnya.


Menelusuri Blok yang "Sunyi"




Lantas, apakah blok-blok seperti B, C, atau O benar-benar hilang? Faktanya, blok-blok ini tidak pernah lenyap. Mereka hanya memilih untuk menjadi "sunyi" dan tetap setia pada fungsi aslinya sebagai zona residensial eksklusif.

Jika Anda mencoba menjadi "detektif urban", Anda akan menemukan keberadaan mereka yang tersembunyi dengan anggun:

  1. Blok B dan C: Terletak di sekitar rimbunnya pepohonan Kramat Pela dan kawasan legendaris Pasar Burung Barito.

  2. Blok O, P, dan Q: Kini bertransformasi menjadi area paling chic di Jakarta, yakni kawasan Senopati dan Jalan Suryo.

  3. Blok F dan G: Tersembunyi dengan tenang di sekitar Jalan Wijaya.

Berbeda dengan Blok M yang bising, di blok-blok ini Anda akan menemukan keheningan, jalanan lebar dengan kanopi pohon yang rapat, serta deretan rumah berarsitektur jengki yang masih tersisa.

Warisan "Garden City" Pertama di Indonesia


Kebayoran Baru merupakan wilayah pionir yang menerapkan konsep Garden City (Kota Taman) di Indonesia. Dalam visi Soesilo, ruang hijau bukanlah sekadar sisa lahan, melainkan elemen integral yang menghubungkan setiap blok.

Konsep inilah yang menjelaskan mengapa Blok S menjadi begitu populer dengan lapangan sepak bolanya. Integrasi antara blok hunian dan "paru-paru kota" inilah yang menciptakan standar kemewahan di Jakarta Selatan—yang tidak hanya diukur dari harga tanah, tetapi dari kualitas udara dan rimbunnya vegetasi yang telah direncanakan sejak tujuh dekade silam.


Kesimpulan Nomenklatur A sampai S yang digagas pada tahun 1948 membuktikan bahwa rencana tata kota yang matang mampu membentuk jalinan sosial yang cair dan emosional. Lain kali Anda melintasi Jakarta Selatan, cobalah melambat sejenak. Perhatikan papan nama jalan dengan lebih jeli; Anda mungkin akan menemukan potongan alfabet yang selama ini Anda kira menghilang di tengah gerak kota yang secepat kilat. (Arpapedia)

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement